Menyalakan Kembali Kasih dan Semangat di Tengah Dunia yang Dingin


Saat Teduh & Penyerahan Diri

“Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu! ... Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”Mazmur 51:17, 19

Mari ambil waktu sejenak untuk menenangkan hati, melepaskan segala beban pikiran, dan membawa kerendahan di hadapan Tuhan.

Menanti Sang Raja di Tengah Musim yang Dingin

Dunia kita hari ini sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Seperti yang diingatkan dalam Matius 24:12-14, "Karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." Kita sering kali melihat ketidakpedulian, kekerasan, dan keegoisan menggerus kehangatan relasi antarmanusia. Suasana zaman ini begitu nyata di sekitar kita, membuat hati rentan merasa lelah dan tawar.

Namun, di tengah dunia yang makin dingin inilah, panggilan iman kita justru diserukan dengan paling nyaring. Sering kali, orang terjebak dalam perdebatan atau kesibukan menebak-nebak waktu kedatangan Yesus yang kedua kali, tetapi melupakan esensi di balik penantian itu.

Yesus sendiri memberikan tanda yang pasti mengenai kesudahan zaman: Injil Kerajaan Allah harus diberitakan terlebih dahulu kepada segala bangsa (Matius 24:14). Artinya, penantian akan kedatangan-Nya bukanlah alasan untuk duduk pasif, melainkan sebuah dorongan moral dan rohani yang mendesak untuk bergerak aktif.

Refleksi dan Pertanyaan Hati

Menantikan kedatangan Kristus sebagai Hakim yang adil berarti rindu agar sebanyak mungkin orang terluput dan siap menyambut-Nya. Kerinduan itu seharusnya membakar semangat kita untuk menceritakan tentang kasih Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Dia, dimulai dari lingkungan terdekat kita.

  • Sudahkah api semangat itu tetap menyala di dalam hati kita untuk memberitakan Injil kepada sesama?

  • Apakah tindakan nyata dalam keseharian yang membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh menantikan kedatangan-Nya kembali?